“SEBUNGKUS ROKOK, SECANGKIR KOPI Dan SEBUAH PEMBICARAAN KONYOL”
PROLOG
Bayangkan saja apa yang akan di lakukan seseorang disaat dia merasa sendiri,gundah dan tanpa arah.Ya, hal yang menjadi dasar pemikiran bagi penulis untuk menyusun sebuah karya yang berdasarkan pada kehidupan manusia terlebih komunitas muda-mudi yang kerap kali mengalami kesendirian akibat dari satu hal yang sebenarnya bisa disebut enteng namun dibuat seakan menjadi hal yang paling berat didunia.kehidupan seperti inilah yang sering membawa warna dalam kehidupan kita sebagaimana gambaran jalan hidup 4 sahabat yang saking eratnya persahabatan, akhirnya membuat hal yang tak mungkin sekalipun dapat menjadi kenyataan..
Cerita yang didasarkan pada kisah nyata (+ bumbu tradisional persahabatan) 4 sahabat terbejat(skala persahabatan kita sendiri)yang pernah hidup di dunia,kisahnya dimulai pada awal tahun 2004 kala 4 dari sekian puluh orang mahasiswa baru fakultas sastra sebuah universitas mulai menitih karir sebagai penuntut ilmu paling berambisi di dunia perkuliahan untuk menjadi yang paling pertama di antara paling utama yang entah kenapa(akan tertuang dalam cerita ini) akhirnya hanya menjadi yang paling terakhir diantara paling terakhir.Cerita yang sedikit banyak mengupas akan sisi gelap bahkan sisi terang setiap sahabat, emosi serta egoisme masa muda yang mengalahkan pemikiran positif seorang profesor sekalipun.
Sebagai pemberitahuan,sebagian besar kisah yang diangkat didalam cerita ini adalah murni kejadian-kejadian nyata yang hampir mengarah pada keseharian para pelaku dan oleh karena itu,setiap hal yang penulis tuangkan dalam cerita ini telah mendapat persetujuan oleh setiap pihak yang terlibat.Cerita ini pun bukan mengarah pada sebuah biografi seseorang namun lebih cenderung ke arah gaya serita yang bisa saja disebut buku harian bersama.Adapun beberapa aktor yang akan dimunculkan didalam kisah ini yang dalam keseharian mereka, tak henti-hentinya juga memberikan warna dalam sepak terjang dari 4 pejuang dunia marbles sehingga akhirnya melengkapi tingkah konyol yang terangkum dalam akhir persahabatan yang sejati.
Akan sangat menarik jadinya jika kita melalui setiap hari dengan tantangan, hingga kadang takkan ada habisnya jika di bicarakan di landasan meja bundar foodcourt bersama SEBUNGKUS ROKOK, SECANGKIR KOPI Dan SEBUAH PEMBICARAAN KONYOL.
Harapan dari penulis, ada baiknya cerita ini bukan hanya dijadikan sebagai teman dalam mengisi waktu luang dan tertawa hingga menangis namun sebaiknya dapat mengarahkan pembaca pada pemikiran yang dewasa serta pemahaman akan makna dari hidup, cinta,persahabatan, kehidupan sosial dan penghargaan terbesar akan keluarga dan diri kita sendiri , karena kehidupan hanya berjalan sekali dan tak mungkin kembali.
Inilah sebagian aktor konyol yang berada di kehidupan dunia marbles (tempat dimana segala sesuatu menjadi mungkin).
Memperkenalkan:
1. Nama : 1 Ricky Andreas A.K.A nyoz
2. Nama : 2 Vicky Oktavianus A.K.A tompel
3. Nama : 3 Chandra Chiko Motahuling A.K.A chimot
4. `Nama : 4 Roger Ponaryo A.K.A ponz
Aku, dia, dia, dan dia akhirnya dipertemukan oleh kesalahan
Siapa yang bakal menyangka kalau kehidupan perkuliahan bakal menjadi serumit ini...Padahal jika dipikirkan secara matang kehidupan di dunia kampus sangatlah mudah.Dengan menggunakan rumus kuliah yaitu masuk kelas, kumpul tugas dan ikut ujian saja sudah cukup.Yup, dengan mengikuti aturan tersebut rasanya tak akan sulit bagi seorang anak muda untuk mencapai satu gelar sarjana dengan jangka waktu yang cukup singkat.
Namun betapa tidak, ketika semangat kuliah membara yang disusun sejak meninggalkan bangku sekolah menengah atas menjadi kacau karena ternyata dunia kuliah sangatlah berbeda dengan apa yang telah dijalani semasa mengenakan seragam putih abu-abu.
Semuanya di mulai pada saat bulan agustus 2004 ketika kali pertama nyoz harus bangun pagi sebelum ayam berkokok, mengingat jarak yang harus ditempuh untuk mencapai kampus fakultas sastra berjarak kurang lebih 1 jam perjalanan,dan itupun bisa saja menjadi lebih dari 1 jam ketika harus menunggu bus antar kota yang sialnya lagi harus menunggu sampai penuh lantas bisa beranjak dari terminal bus yang katanya adalah terminal terindah dari seanteroh jagat bumi Indonesia timur.Sejak saat itupun aku akhirnya menabuh genderang perang dengan yang namanya bangun pagi.Ya,satu hal yang harus menjadi musuh dalam keseharianku mengingat aku orang yang sangat malas dan terkenal bersahabat erat dengan yang namanya bantal, selimut dan kasur.Seperti halnya orang-orang yang telah melalui proses ospek di kampus,akupun menyiapkan segala perlengkapan perang yang nantinya digunakan sebagai salah satu syarat untuk menuju tempat penyiksaan batin yang bernama kampus ungu(sebutan bagi fakultas sastra).beruntunglah perlengkapan yang harus dibawa ke kampus tak serumit perlengkapan yang harus dibawa teman-temanku yang menuntut ilmu di fakultas berbeda.Tapi pada umumnya,aku tak menghiraukan apa yang harus dibawa namun perasaan yang satu ini yang telah menyelimuti pikiranku sejak malam sebelum hari pertama mengikuti ospek, rasa itu adalah MALU.Bagaimana tidak malu,membayangkan saja rasanya sudah tak mengenakan hati, dimana baru pukul 4.30 pagi seorang lelaki botak mengenakan pakaian yang jelas-jelas tak masuk akal dan pikiran membawa sapu ijuk, sapu lidi, keranjang sampah bahkan sebuah piring kaleng yang pabriknya sendiripun sudah tak lagi memproduksi benda kuno yang satu itu dan bahkan kalalu mau dipikir-pikir piring yang sejenis itu harusnya sudah berada di dalam museum peninggalan perang perjuangan pada saat Indonesia di jajah.Itupun bisa saja terjadi karena siapa yang bakalan tahu kalau sebenarnya ada pejuang negara kita yang sempat menjadikan piring seperti itu sebagai pelindung wajah dari terjangan pelor orang-orang Belanda pada masa penjajahan.Kan bukan tidak mungkin itu terjadi, buktinya bambu runcingpun sempat di jadikan senjata utama sebagai alat perlawanan terhadap penjajah, hehe..tapi sudahlah apapun yang digunakan oleh para pejuang atau apapun yang menjadi pelindung saat perang perjuangan aku tetap menghormati dan bangga akan mereka, toh akhirnya negara kita sudah bisa mengumandangkan teks proklamasi yang menandakan kemenangan atas penjajah.Tapi kok bisa yah,negara seluas ini di jajah sampai 3 setengah abad???Hehehe...Sebuah tanda tanya besar dalam pikiran saya sejak saya mengenakan pakaian putih merah alias SD.tuh kan akhirnya ceritanya beralih ke pelajaran sejarah...Hahaha apa memang aku seharusnya menjadi guru sejarah saja yah???Tidak usahlah...walaupun dipaksakan aku tidak akan pernah mau karena mengingat apa yang pernah aku lakukan semasa SMA pada guru sejarahku,kalau begitu kejadiannya, bisa-bisa kejadian tersebut bakalan terulang pada ku.Ngomong-ngomong, hmmmm maaf yah bu’ guru atas kejadian waktu itu karena aku hanya di pengaruhi oleh teman2 yang disampingku kala itu.hehe
Yup, bus yang ditunggu-tunggupun akhirnya tiba di hadapanku sehingga aku harus meninggalkan kota sejuk tempatku tinggal untuk menuju tempat penyiksaan batin yang aku sebutkan tadi.Jadi teringat akan perjuangan ibuku yang kala itu sangat bersemangat memegangi payung berwarna hijau tua untuk menghantar aku ke terminal bus antarkota.Memang benar jika ada yang menyebutkan kasih seorang ibu itu terbaik sepanjang masa.Bayangkan saja perjuangannya bagiku saat itu, mulai dari membangunkan aku, menyiapkan pakaian, sarapan dan bahkan tak lagi menghiraukan rintik hujan yang turun dipagi hari yang dingin itu, padahal dia juga harus menyiapkan diri mengurus perlengkapan sekolah adikku yang cantiknya minta ampun(yah iyalah, kan dia adikku)sampai mengesampingkan jam kerjanya yang juga harus berada di RS(Rumah sakit)tempatnya bekerja sebelum pukul 6.45 pagi.
Satu jam dalam perjalanan seakan sudah menjadi 10 hari bagiku.Semua dikarenakan jam yang ada pada lengan kiriku sudah menandakan 5.50 sedangkan tenggat waktu yang diberikan oleh panitia ospek pada saat itu paling lambat jam 6 pagi.Tapi pada dasarnya perasaan yang ada saat itu bukan hanya karena takut dimarahi jika terlambat namun tak bisa dielakkan lagi ketika kira-kira 30 pasang mata orang tua plus 1 pasang mata indah wanita cantik berkaca mata tipis tak henti-hentinya memandangi barang bawaanku yang begitu menyolok.Ingin berteriak saja rasanya ketika menjadi bahan perhatian khalayak ramai didalam bus kota saat matahari belum juga menampakkan sinarnya..
Baru saja aku menjejalkan langkah kaki ke arah kampus ungu, tak disangka disana sudah ada sosok pria berbadan besar yang tampak sangat lugu dan lucu memegang perlengkapan perang yang tadi aku sebutkan.Dengan segera akupun tertawa tak karuan hingga membuat wajahku menjadi panas dan memerah.Bagaimana tak lucu melihat ponz dengan penampilan berbeda seperti itu sontak membuat saya geli, mengingat belum pernah sekalipun aku melihat ponz dengan tampilan kepala plontos.Dengan raut wajah menahan tawa akupun segera menghampirinya yang kala itu sedang duduk gelisah diatas sebuah batu besar menunggu teman untuk memasuki terowongan kampus yang sangat gelap dan dipenuhi oleh sekumpulan mahasiswa senior berambut panjang bak perkumpulan masyarakat primitive yang hidup di zaman batu.
“Apa yang kau tertawakan??Katanya...”
Namun belum sempat aku menjawab keduanya sudah tertawa lepas bagai di gelitik sekumpulan tuyul-tuyul iseng yang telah sekian puluh tahun membangun wadah perkumpulan di dalam kampus ungu.
“Hahahaha...Semakin aneh rasanya yah karena ternyata saat aku menertawakan dirimu, ternyata kamu juga sedang menertawakan diriku...”
Hari inipun akhirnya kami awali dengan tawa dan senyum lepas setelah perjuangan memenangkan pertarungan melawan tekanan batin yang telah kami alami saat liburan kelulusan SMA dalam rangka menyambut ospek pertama.Tapi siapa yang bakal menyangka wajah ponz yang sudah normal harus kembali memerah pada rentan waktu yang sangat singkat..
“Hey...ada apa denganmu..??Tanyaku.”
Dengan santai dia menatap arah jalan raya yang saat itu sunyi karena tak satupun mobil angkutan yang lewat.Diapun memainkan kening diikuti dengan senyum tipis yang akhirnya menggambarkan betapa bejat pikirannya saat memandangi seorang gadis cantik memegang peralatan perang menuju arah gerbang kampus.Sontak saja aku langsung menggambarkan betapa anggunnya gadis itu sehingga dengan segera aku membayangkan dia sebagai dewi amor yang siap untuk melanjutkan perjuangan perang dingin melawan monster-monster berambut panjang,bermata merah dan bersenjatakan botol minuman keras juga tatapan ganas di pintu masuk kerajaan kampus ungu.
“Wuuuuuuuuuuuuuuzzzz...Plaaaaaak….”
Tiba-tiba saja aku tersadar karena layangan sapu lidi menghampiri wajahku setelah ayunan tangan kanan pria botak disampingku menghempas jalan pikiranku yang sebenarnya sudah tak lama lagi memasuki bagian ke 4 dalam perang berjudul pahlawan sang dewi amor yang tentu saja aku yang jadi aktor utamanya.Akhirnya sang gadis pun berlalu dari hadapan kami berdua membawa senyum manis yang hanya sekilas singgah di ujung tatapanku.
“Hey...apa yang kau lakukan...?”Kenapa memukulku??”Tanyaku
Ponz pun hanya menjawab…“Sudah cukup..!! Sekarang lihat siapa yang datang...”
“Siapa??”Tanyaku heran sambil mengerutkan wajah.
“Apakah dia salah satu dari kita..?”
“Ya...Mungkin saja, karena melihat dari barang bawaannya akupun sudah bisa memastikan bahwa dia adalah sekutu kita nantinya.”
“Aaackhh...Ada-ada saja pikiranmu.”Kata ponz sambil menggelengkan kepala.
Terlintas sejenak untuk langsung menyapa laki-laki yang datang di hadapan kami berdua namun begitulah kebiasaanku jika bertemu dengan orang asing,hanya sampai sebatas senyum tipis sampai-sampai jika mau dibayangkan tingkah kami bertiga sudah seperti pasangan pria homo akibat dari saling melempar senyum yang entah artinya apa.Tapi sudahlah, tak mengapa…saat itupun ponz langsung saja membuka pembicaraan dengan laki-laki itu sambil menunggu waktu untuk beralih ke dalam kampus.Tapi aneh juga sih rasanya ketika seorang ponz akhirnya mau memberanikan diri untuk menyapa orang dihadapannya,karena sepengetahuanku,ponz sendiri orangnya pemalu dan tak ingin banyak berbicara,bahkan terkesan senyuman saja sudah cukup baginya untukmenjawab pertanyaan orang terhadapnya.
“Hey…ikutan ospek disini juga..?”
“Hmmm...Iya” dengan ragu-ragu dia menjawab pertanyaan dari ponz…
“Oh…kalau begitu, kita seangkatan dong…”kata ponz
Dengan sedikit memalingkan wajah laki-laki itu menganggukan kepala serta memperbaiki letak topi kupluk berwarna putih biru yang saat itu agak sedikit miring dan hampir menutupi sebelah matanya karena dia sibuk memegang barang bawaannya.
“Hmmm, tak usah gugup seperti itu...”Kataku
“Kan disini kita juga sama –sama sebagai mahasiswa baru…kalau aku senior disini, mana mungkin kamu bisa berdiri dihadapanku, pasti yang ada kamu disuruh jongkok atau tiarap di bawah kakiku…”
“Kamu juga tidak perlu takut menjawab pertanyaan darinya, dia juga orangnya pemalu kok…hehehe”
“Temanku ini tidak memakan manusia, wajahnya saja yang memang terkesan garang karena lapar.”Hehe …
Candaku sambil mencairkan suasana yang sudah agak sedikit kaku, karena dia hanya banyak berdiam diri dan berusaha menyibukan diri dengan memandangi sekeliling area kampus yang memang agak sedikit menyeramkan.
“Oh iya...namaku Ricky Andreas tapi kamu bisa memanggilku dengan sebutan Nyoz saja, karena kebanyakan sahabat-sahabatku juga hanya memanggilku dengan nama yang aneh seperti itu.”
“Dan ini sahabat SMAku …Namanya Roger.
“Hey...aku Roger...kamu...?”
“Aku Chandra Motahuling…” jawabnya dengan aksen yang memang agak sedikit berbeda dengan cara bicara aku dan ponz.
Akhirnya, aku jadi tahu kalau sebenarnya aksen berbicaranya yang membuat dia sering diam, karena melihat dari gerak-gerik apalagi wajahnya pasti dia bukan pendiam seperti sekarang ini.Hehehe…ada-ada saja aku ini, sudah seperti peramal handal padahal hanya sekedar menerka saja, siapa yang bakal menyangka kalau tebakkanku nantinya terbukti benar.Tapi untuk saat ini tak mengapa, Kan kata orang bijak: orang yang beruntung masih lebih hebat dari orang yang pintar.Jadi intinya??? apa tidak usah menjadi pintar yah??Hahaha...dijadikan bahan pemikiran buat diri sendiri saja yah.
“Aku biasa memanggil Roger dengan panggilan ponz, jadi kamu bisa saja memanggilnya juga dengan nama seperti itu, iya kan bro…?”
“Yah…Terserah kalian saja mau memanggilku dengan sebutan apa, yang penting kalau urusan makanan, jangan pernah lupa untuk melibatkan aku kedalam situasi itu...Ok??Hahahaha” Tawa ponz sambil mengelus perutnya yang sudah seperti wanita mengandung 3 bulan saja.
Keasyikan bercanda, tiba-tiba saja….
“…GUBRAAAAAAAAAAAAAAK…!”
Bunyi suara yang sangat keras dari arah kampus…sehingga kontan saja membuat suasana disekitar kami bertiga yang tadinya sudah sedikit relax harus kembali mencekam serta membuat detak jantung semakin cepat bahkan secara sepintas membuat bagian dada kiri atas kaos oblong berwarna ungu milik dari Chandra bergerak mengikuti irama dentuman jantung yang tak karuan.Anehnya ,disaat yang seperti itu,masih sempat-sempatnya ponz memainkan kening dan menunjuk arah dada kiri dari Chandra sehingga membuat aku harus dipaksa tertawa kecil dalam situasi yang seharusnya tak layak untuk ditertawakan.hehe..Tapi sebenarnya lucu juga sih ketika melihat wajah Chandra yang semakin menjadi merah karena malu ditertawakan oleh kami berdua.
Dan akhirnya benar saja senyum yang tadinya terpancar dari wajah kami berdua akhirnya berubah menjadi ketakutan yang mendalam ketika suara keras dari dalam kampus berteriak dengan sangat keras.
“Woooooooiiiiiii…!”
“Kalian bertiga…!
Munculah seorang pria dengan wajah garang,mata merah dan benar…!berambut panjang tak beraturan sedang memegang botol minuman keras persis seperti apa yang telah aku bayangkan sebelumnya, dan nampaknya perang dingin bersama dewi amor untuk melawan para pejuang primitive zaman batu memang bakal terjadi.Ada ketegangan mendalam yang terasa ketika wajah kami bertiga berubah menjadi pucat pasi bahkan untuk menelan air liurpun sudah tak bisa saking takutnya berhadapan dengan orang sejenis itu yang ternyata memang benar-benar hidup dan berkuasa di kampus ungu.Detik itu juga,rasanya jantung seakan tak lagi berdetak karena gertakkan seorang senior tingkat akhir menggemparkan dinding telingaku.Dan sesaat setelah munculnya pria garang tersebut kemudian diikuti oleh segerombolan senior lain yang tak kalah garangnya dengan panglima perang monster kampus bepakaian serba hitam yang aku sebutkan tadi.
“Matilah kita bro…” Geramku sambil menggenggam erat dua jenis sapu secara bersamaan di kedua tanganku hingga kemudian diikuti oleh bunyi sebuah piring kaleng terjatuh dari genggaman tangan Chandra,yang membuatnya semakin pucat seperti mayat hidup.Akhirnya kami bertigapun harus segera masuk daerah kekuasaan para monster primitive dengan cara merayap menelusuri kolong 2 mobil jeep senior yang terparkir rapi di parkiran kampus laksana prajurit TNI(tentara Nasional Indonesia) yang melakukan latihan perang .Tiba disana, ternyata banyak juga teman-teman angkatan lainnya yang sudah duduk diam dan tak bergerak bak sebuah pekarangan umum alias kuburan yang dengan tegangnya menunggu instruksi dari para senior kampus.Disinilah aku akhirnya tahu bahwa tak hanya aku sendiri manusia botak mengenakan pakaian aneh memegang perlengkapan perang berjalan dipagi hari yang masih terasa hembusan angin dan embun pagi yang menempel di dedaunan pohon rindang yang ada di depan ruang teater kampus.
Beginilah jadinya ruangan teater kampus, menjadi sangat sunyi ketika perpaduan antara rasa takut dan penasaran tentang apa yang akan terjadi kelak pada nasibku dan teman-teman jika saja panitia ospek pada saat itu bertingkah anarkis.
“Ternyata, sulit rasanya yah jika menjadi mahasiswa baru…!” Keluhku pada Chandra yang kebetulan saat itu mendapat tempat duduk disamping kananku.
“Iya…aku juga semakin merasa tak nyaman dengan kadaan ini, mana perutku sudah merasa sakit lagi…”bakalan panjang jadinya jika mereka nanti tak menghiraukan aku pas tengah meminta izin untuk ke toilet...”Kata Chandra.
“Sudahlah, kau tahan saja sampai saat istirahat tiba”
“Yang ada nanti, bukannya ke toilet kamu akhirnya harus push up 100 kali di hadapan teman-teman yang lain…”Sambungku sambil sedikit melayangkan pandangan ke arah seorang wanita cantik berbaju putih yang kala itu sedang asik bercengkrama dengan pria berambut agak pirang sebahu yang sedang duduk didepan pintu sambil dengan santainya memainkan gantungan kunci berbentuk tengkorak kepala manusia.
“Eh, tapi si ponz dimana yah?”Tanyaku
“Rupanya dia ada di barisan depan soalnya tak kelihatan dideret tempat duduk kita…”sambungnya agak sedikit santai karena mungkin sudah agak terbiasa dengan diriku.Yah maklum saja dia hanya berbicara denganku tidak dengan orang yang disebelaahnya lagi mengingat aku orang pertama yang dikenalnya pada saat masuk ke daerah kampus.
“Iya…mungkin saja”jawabku
“Tapi kalau dilihat sekilas dari sini, semua pria yang ada didepan kok jadi kayak ponz yah??Candaku…
“Ya iyalah…Kan semua pria yang ada didepan mengenakan seragam yang sama, juga kepalanya botak semua”.bisik Chandra yang saat itu sudah mulai bisa tersenyum walau hanya sesaat.
“Bayangkan saja jika ternyata mereka yang duduk dibarisan depan itu adalah ponz semuanya, bakalan habis makan siang kita nanti, dilahap sekumpulan ponz yang tiba-tiba menjadi banyak”.Hahaha…” Sedikit candaku yang akhirnya membuat suasana sedikit lega karena kami sempat tertawa kecil membayangkan hayalanku yang konyol.
Ada-ada saja yang terjadi pagi itu,rasanya sangat tegang karena makin banyak saja senior yang bermunculan memenuhi ruang teater hingga kembali membuat sekitar 70 mahasiswa baru kampus ungu menjadi takut bagai kucing basah.Wajah-wajah pahlawan yang sempat aku lihat saat pertama kali berpapasan di dalam ruang teater menjadi tak berdaya karena situasi yang memaksa suasana menjadi hening dan meninggalkan bisik-bisik pembicaraan senior yang hadir sabagai panitia ospek .Tingkah liar yang tadi diperagakan seniorpun saat melakukan penyambutan mahasiswa baru berubah menjadi gagah setelah mereka mengenakan jas Univeritas berwarna biru muda.Tak dapat dibayangkan ketika sesaat aku tahu bahwa sekumpulan senior yang tadinya memiliiki wajah sangar sebagian besar ternyata adalah dewan pengurus SENAT MAHASISWA yang siap mengarahkan kami untuk menjadi mahasiswa yang kritis dan aktif yang padahal kalau mau dipikir, saat-saat seperti ini bukanlah seperti apa yang akan mereka ajarkan namun cenderung mengarah pada tekanan batin yang nantinya hanya akan menyisakan trauma bagi sekumpulan mahasiswa baru.Yah,tapi begitulah keadaannya, kalau tak dengan nada keras dan sedikit tekanan nampaknya kami hanya akan menjadi mahasiswa pembangkang tanpa karakter jelas untuk menghadapi proses kehidupan dunia kampus yang keras.
“Rasanya ingin kupatahkan saja leher senior yang satu itu, melihat tingkahnya saja aku sudah muak…” Bisik seorang teman angkatanku yang berada di samping kiri barisan belakangku.
“Hmmm…” Senyumku tipis sambil sedikit menggelengkan kepala.
“Memangnya kenapa?”Tanyaku.
“Bagaimana tak kesal, baru saja tiba aku langsung dihadiahi tamparan keras dipipi sebelah kananku”,
“Memangnya apa yang kau lakukan hingga mereka menamparmu?
“Hanya karena wajahku memperlihatkan rasa keberatan saat disuruh merayap dibawah selangkangannya…”Sambutnya geram.
“Yang mana sih orangnya?”Tanyaku.
“Itu…Yang sedang duduk atas meja”.
Ternyata yang dimaksudkannya adalah pria berambut pirang sebahu yang tadi sedang berbincang-bincang dengan wanita cantik.
“Apa kamu tak salah? Bukankah tingkahnya tak seperti kelihatannya, dia kelihatan tak kejam seperti penampilan senior-senior yang lain”.
“Memang iya, tapi mana mungkin aku salah?”
“Ya sudahlah, kata kakakku, begitulah senior disetiap kampus, jika saat ospek tiba, mereka adalah raja dan tak ada yang bisa menyangkal perkataan mereka karena walaupun yang mereka katakan salah, kita juga yang tetap akan disalahkan”.
“Memangnya kakakmu siapa?” Tanyanya dengan angkuh.
“Oh, dia tak lagi kuliah karena sudah memperoleh gelar sarjana ekonomi di tahun kemarin, yah, hitung-hitung sedikit pengalamannya sudah dibagikan padaku sesaat sebelum aku kuliah.”
“Tapi apa memang harus seperti itukah?main pukul tanpa sebab, padahal aku kan tak berbuat salah padanya…”jawabnya dengan nada kesal.
“Hehe…sebaiknya kita tunggu saja saat yang tepat lalu kita langsungkan balas dendammu”.
“Tapi kamu akan membantuku kan?”
“Sebentar, maksudmu menamparnya sama seperti apa yang dia lakukan padamu?”
“Iya..! Tentu saja, itu karena aku masih tak bisa terima perlakuannya padaku”.
“Sabar dulu…” kataku…
“Maksud dari pembicaraanku bukan yang seperti kamu bayangkan, tapi kita tunggu saja sampai kita menjadi senior di kampus ini “.
“Aackh, itu sih bakalan lama, aku sudah tak sabar”. Geramnya sambil mengepalkan tangannya yang dipenuhi bulu.
Tapi sejujurnya aku takut juga mengingat status kami pada saat itukan cuma anak baru yang memang hanya akan dipandang sebelah mata,kalaupun mau melawan, kita hanya akan dijadikan sasaran pemukulan yang empuk bagi senior-senior yang lain.Bakalan parah jadinya jika kita melawan, bisa-bisa perjuanganku untuk meraih gelar sarjana muda bakalan terancam terhenti sebelum menginjakan kaki di dalam ruang perkuliahan.
Akhirnya sambutan dari ketua panitia saat itu menghentikan pembicaraan kami yang sudah mengarah pada kekerasan dibalas dengan kekerasan.Akupun bahkan tak lagi sempat menanyakan nama dari teman baruku itu yang memang terkesan agak tempramen dan tak mau diperintah oleh siapapun.Sudahlah, akupun akhirnya kembali mengarahkan pandangan kedepan dengan berpura pura mendengarkan setiap kata dari ketua panitia ospek padahal kedua mataku sudah agak terasa berat dan hampir tertutup akibat mengantuk.
Saking tegangnya,waktupun akhirnya tak lagi terasa sudah menunjukan pukul 10 pagi.Tapi jangan pernah menganggap ini akan segera usai, karena setelah sambutan sambutan tadi kami baru diperkenalkan dengan dosen-dosen pengajar dan belum juga pengenalan biro-biro kegiatan kemahasiswaan yang nantinya bakalan mencari anggota baru sebagai bagian dari kehidupan organisasi kampus.
Belum juga waktu istirahat tiba, kegaduhan kembali terjadi di dalam ruangan teater kampus setelah seorang pria botak berlari menyambangi pagar besi penghalang pintu masuk.Siapa yang bakal menyangka kalau saja ada mahasiswa baru yang datang terlambat pada hari pertama pelaksanaan ospek, padahal telah diberitahu sebelumnya untuk datang tepat waktu.Kontan saja, kejadian itu menarik perhatian setiap pasang mata yang kala itu dengan tegangnya mendengar penyampaian tentang kegiatan organisasi kemahasiswaan.Akhirnya bisa saja ditebak, laki-laki botak yang satu itupun langsung menjadi bahan olok-olokan setiap mahasiswa senior yang sedang berjaga didepan pintu.
“Hey botak…! Jongkok kamu…” Teriak seorang pria garang berambut panjang dari arah belakang ruang teater.
“Bisa-bisanya kamu datang terlambat dan dengan seenakknya berlari menuju tempat duduk itu, kamu pikir tak ada aturan disini?”
Belum juga dia jongkok, kembali teriakan seorang lagi senior berambut pirang dari depan teater dengan keras.
“Tiarap kamu disitu…!”
Rasanya sangat kasihan melihat keadaannya saat itu yang menjadi pusing ketika harus memilih tiarap atau jongkok, sangat rumit sampai diapun hanya bisa menundukan kepala dan terdiam didepan teman-teman angkatan yang memang sudah tersiksa sejak pukul 6 pagi.Bayangkan saja apa yang harus dilakukan olehnya ketika dua perintah secara bersamaan harus dilakukan secepatnya, alhasil hadiah tamparan bahkan lemparan kursi plus hukuman push up 150 kali yang diberikan ketua panitia harus ditelan oleh pria yang tadi itu.Tatapan kosongnya yang menyiratkan kesakitan dan ketakutan tak mampu membendung amarah yang telah meluap dari seorang senior yang memang telah terlihat murka balik meja panjang didepan ruangan bagai singa yang siap menerkam mangsanya.Kasihan, sungguh kasihan melihat dia yang tak bisa berbuat apa-apa.Tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika saja aku yang ada di posisinya kala itu,mungkin aku sudah tak bisa lagi meneruskan langkah kaki ke arah depan mengingat tekanan batin dan mental yang sangat mendalam yang bakalan dialami didepan teman-teman angkatan , atau bayangkan saja kekacauan yang akan terjadi jika sikapnya sama seperti dengan pria bongsor di sebelahku ini, mungkin akan ada sebuah adegan perkelahian yang sengit seperti film favoritku kala masih kecil yaitu saur sepuh. Aackh, mudah-mudahan saja semua hanya berjalan lancar tanpa kekerasan.
“Nyoz lihat, dia sepertinya sudah mau menangis”.Kata Chandra
“Sudahlah, kita sebaiknya diam saja, jangan sampai kita juga harus berada didepan meja penghakiman sepertinya”.
“Iya …tapi seru juga ya jika melihat ada orang seumuran kita sampai meneteskan air mata hanya karena di tekan oleh hal semacam itu?”
“Aackh, kau ini sudah seperti orang yang berani saja, buktinya tadi pagi kau sudah terlihat seperti mayat hidup karena mendengar teriakkan pria yang satu itu”. Hehe...tawaku kecil.
“Tapi kan itu sudah berlalu, tak usah dibicarakan lagi. Aku tak lagi takut dengan gertakan semacam itu”.Senyumnya sinis, sambil dengan sombongnya menganggukan kepala ke arahku.
Namun tiba-tiba saja seorang dosen berbadan tegak berteriak dari depan dan diikuti dengan membanting sebuah buku tebal ke lantai.
“Hey kamu yang disana, siapa yang menyuruhmu bicara???”
“Cepat kedepan…!”
“Aaaaastaga Nyoz….Apakah itu ditujukan padaku?”Dengan ragu-ragu dia bertanya.
“Apakah aku yang ditunjuk olehnya”.Bisiknya seakan tak percaya.
Akupun sudah tak sempat lagi berkata apa-apa ketika dia bertanya, karena ketakutan dibuat oleh dosen pria tersebut yang melemparkan buku setebal kamus bahasa inggris, yang kontan saja memutus pembicaraan antara aku dan Chandra.
“Matilah aku”.kilahnya.
Kembali lagi dengan keras sang dosen berteriak, “Melongo kamu…!”
“Cepaaaaat…!”
“Ya, kamu…! Kamu yang beralis tebal…!”
“Dasar tak tahu aturan, kau pikir kampus ini kepunyaan nenekmu hingga kau bisa dengan seenaknya bicara tanpa meminta izin padaku disini?”
Baru saja dia berdiri untuk maju kedepan, terjangan keranjang sampah berwarna kuning dari arah belakang sudah menghampirinya dengan keras.
“Siapa yang menyuruhmu berdiri?”
“Jongkok kamu”.Sambung senior yang tadi melemparkan keranjang sampah.
Akhirnya Chandrapun harus menuju kearah depan sambil jongkok.
Semakin takut saja jadinya saat dia bertanya dengan siapa Chandra bercengkrama tadi.
Spontan saja Chandra menjawab “Saya bicara dengan Ricky pak”.
“Kamu juga cepat kedepan…!”.
Yah…Bisa ditebak juga apa yang terjadi ketika akupun di panggil menuju peraduan didepan ruang teater setelah terjerumus akibat pembicaraan konyol kita berdua.Tak lain dan tak bukan , jalan jongkok serta gertakan pun mengiringi langkahku yang semakin gugup karena wajah setiap senior yang aku lewati beralih menjadi menyeramkan seraya sesekali melayangkan tendangan ke arah belakang bokongku.
Kejadian yang sangat tidak aku harapkan ini semakin menyiksaku ketika kami bertiga harus menerima ganjaran berupa pertanyaan tentang siapa saja dosen yang telah diperkenalkan tadi,yang sialnya lagi tak ada satupun yang bisa menjawabnya.Kembali lagi tanganku semakin gemetar ketika ganjaran push up 100 kali menghentak dinding telinga.
Tapi bicara tentang senior yang katanya adalah raja jika di lingkungan kampus pada saat ospek memang benar adanya,bagaimana tidak,saat kami tak lagi mampu menjawab pertanyaan yang tadi di layangkan kepada aku,chandra,dan tompel secara mengagetkan pertanyaan itu diarahkan kepada salah satu teman angkatan kami yang duduk di bagian depan kelas dan anehnya lagi itu adalah ponz.
Sangat tidak disangka ketika diapun tak mampu menjawab pertanyaan itu padahal dia duduk di barisan depan, akhirnya kami berempat harus berdiri sejajar didepan ruang kelas.
Tapi ada yang aneh ketika kami berempat bertatapan,tak ada rasa takut,tak ada rasa gentar lagi yang didapat melainkan rasa lucu. Tak tahu apa yang menjadikan kami harus tertawa kecil namun bisa dipastikan bahwa sebuah tanda akan persahabatan sejatipun telah terbentuk walaupun kami dipertemukan oleh kesalahan yang tak seharusnya tak perlu terjadi.
Ada saja yang datang…
Tak terasa masa pengenalan lingkungan kampus pun usai,setelah seminggu penuh diisi dengan perasaan tak tenang akibat dari ganjaran, bentakkan, serta aksi pahlawan perang bersama dewi amor yang akhirnya berubah menjadi serial drama berjudul ‘kurcaci suruhan’oleh senior kampus,kini semua berangsur menjadi kebiasaan yang rasanya sangat berbeda.Yah situasi perkuliahan sangat jauh lebih mengasyikan dibanding dengan masa sekolah dulu.kebebasan yang dulu tak kita rasakan ,kini menjadi keseharian yang aku sendiri sebenarnya tak tahu arahnya,entah akanmemberikan efek yang baik bagi karir perkuliahanku atau bakalan menjadi mimpi buruk.
Bicara tentang saat pertama menginjakkan kaki kedalam daerah kampus,memang sangat menakutkan tapi begitulah kenyataanya, jika tak melalui tahap ospek atau pengenalan kampus, maka tak akan menarik jalan cerita kehidupan kita didunia perkuliahan.Awal yang menyakitkan pun akhirnya menjadi akhir yang membahagiakn dikala kami sekumpulan mahasiswa baru yang tadinya dianggap lawan oleh senior telah berubah menjadi sekutu yang sangat erat.Kalau mau dipikir,mungkin inilah yang menjadi inti dari proses ospek pada saat mengawali karir sebagai mahasiswa baru.Yah lihat saja apa yang terjadi dengan teman-teman seangkatanku yang tak mengikuti proses ini,mereka tak menjadi pribadi yang bebas walaupun sebenarnya mereka sangat bersahabat dan mudah untuk bergaul.Saat berpapasan dengan seniorpun mereka kayaknya tak nyaman.Hmm,sekedar pesan saja bagi yang mau lanjut kuliah selepas dari SMA,mendingan jangan sampai terpengaruh buat gak ikutan ospek,banyak yang bakalan terlewatkan dan banyak yang tak kalian belajar jika saja melewatkan apa yang namanya masa perkenalan kampus.
......................................................................................................To be continued.
2 komentar:
Menurutku kegiatan Ospek saat ini tidak lebih dari sebuah ajang balas dendam karena setiap mahasiswa dari setiap angkatan pun akan melakukan hal yang sama, yaitu penyiksaan.
Saya melihat kecenderungan ini terjadi karena beberapa faktor, tetapi asumsi saya adalah karena adanya wacana militer yang telah berlangsung lama dalam budaya kita, sehingga militerisme yang menghegemoni itu pun terus - menerus diproduksi dan berkembang biak, sehingga setiap lingkungan kampus seakan - akan menikmatinya. Hal ini sangat kontras dengan tujuan pendidikan sebenarnya.
Dan lagi menurut saya Ospek dilingkungan pendidikan sebenarnya tidak memiliki faedah apa - apa jika hanya disertai dengan bentuk - bentuk kekerasan secara nyata atau kekerasan simbolik. Akan lebih bijak jika kegiatan ospek dilaksanakan dengan sesuatu yang lebih bermanfaat tanpa harus ada unsur kekerasan.
Jika ada pendapat yang mengatakan bahwa melalui ospek [yg mempunyai unsur kekerasan] calon mahasiswa akan memiliki mental baja dan kemampuan yang bla bla bla bla...
sy pikir itu hanya sebuah legitimasi saja untuk tetap melanggengkan kegiatan balas dendam yang sangat menyiksa tersebut.
Anda boleh tidak setuju dengan saya, apa pun alasan anda untuk tetap mendukung ospek yg berunsur kekerasan, saya hanya berpikir bahwa ternyata mental calon akademisi / intelektual muda ternyata masih barbar juga.
Terlepas dari semua itu.. cerita ini sangat menarik. Cerita ttg awal mula persahabatan dengan setting orientasi kampus. Tokoh Nyoz menurut saya merupakan sebuah representasi terhadap pengarang cerita ini sendiri yang tidak lain dan tidak bukan adalah Marc.
Perihal piring kaleng, saya yakin pasti itu bisa ditembus peluru.
Tokoh Ibu yang dihadirkan juga menambah kesan bahwa wanita yang disebut Ibu itu ternyata wanita yang benar - benar kuat, tegar dan penuh kasih. meskipun tidak dijabarkan secara mendalam tapi saya bisa membayangkan bahwa penulis memiliki ikatan batin dan rasa sayang mendalam terhadap seorang wanita yang disebutnya sebagai Ibu itu tadi.
Saya juga bisa membayangkan bagaimana penampilan penulis sebagai mahasiswa baru.. pasti sangat "cupu a.k.a culun punya" :D
Tapi ada satu pertanyaan yang mungkin jika penulis berkenan untuk menjawabnya "keisengan apa yg telah penulis lakukan terhadap seorang guru sejarah??"
Terakhir.. Indonesia tidak dijajah 3.5 abad tp hanya 3.5 tahun.
3.5 abad itu hanya merupakan perang saudara.. [ceritanya panjang dan saya capek untuk mengetik :).. maaf mode on]
____________________seseorang yg disebut BADUT :)
Terima kasih atas saran,kritikan ataupun setiap komentar yang telah dengan seksama ditanggapi oleh pembaca, sehingga dengan ini penulis mengetahui bahwa cerita yang telah dipostkan penulis di blog ini telah dibaca secara keseluruhan oleh anda(seseorang yang biasa disebut BADUT)secara seksama dan penuh dengan ketelitian.
semua itu akan dijadikan masukan bagi penulis untuk lebih kreatif lagi mengekspresikan lanjutan ceritanya.
berbicara tentang kegiatan OSPEK,saya setuju 1000 persen dengan apa yang telah dikatakan pembaca.wacana militer yang telah berlangsung lama dalam budaya kita yang akhirnya ada sistem militerisme yang menghegemoni memang benar adanya,namun disini penulis hanya berusaha menggambarkan segala sesuatu sesuai dengan keadaan yang terjadi dalam cerita dan menurut kenyataan yang ada.
perlu adanya klarifikasi juga,sekalipun dalam cerita penulis menggambarkan setiap kegiatan OSPEK masih menggunakan sistem militerisasi dan tidak lebih dari sebuah ajang balas dendam karena setiap mahasiswa dari setiap angkatan pun akan melakukan hal yang sama, yaitu penyiksaan,bisa dipastikan dan yakinlah bahwa penulis juga berharap suatu saat nanti akan ada perubahan tentang sistem penyelenggaran proses kegiatan ospek lebih ke arah yang positif dan dilaksanakan sesuai kaidah2 kemanusiaan hingga akhirnya menciptakan pribadi2 yang berkualitas tanpa harus dibentuk dengan cara kekerasan :p
berbicara tentang ceritanya, penulis sangat menghargai akan tanggapan yang diberikan oleh anda/badut dengan menilai cerita ini menarik.
disini juga penulis tdk menampik akan adanya representasi tokoh yang diambil dari penulis sendiri karena memang cerita ini beranjak dari true story...namun perlu diketahui juga ,bahwa bumbu tradisional yang di campurkan dalam cerita ini punya pengaruh yang sangat besar..
berbicara tentang tokoh yang dikatakan 'cupu', Don't judge the book by the cover...
hehehe..
kalo ttg piring ,itu cuma intermezzzzzoooo..
hehe..
:)
hmm,tentang guru sejarah??penulis sangat berkenan untuk menjawab pertanyaan trsbut namun rasanya kolom komentar ini gak akan cukup menampung ceita yang 1 ini,so...akan ada saat dmn penulis menjawab semuanya dengan jelas bahkan mencertakan secara gamblang bagaimana kronologisx..
dan terakhir,berapa pun lamanya mw abad/tahun kan intinya kita pernah di jajah..
:)
Posting Komentar